Site icon Serambi Mekkah

Boleh Jadi Anak Kita Tidak Kekurangan Nasihat, Mereka Kekurangan Ayah yang Mau Mendengar

Ada anak yang kebutuhan makannya terpenuhi.

Sekolahnya dibayar.

Bajunya dibelikan.

Ketika sakit, obatnya disediakan.

Tetapi ketika hatinya sedang penuh dan ia ingin bercerita…

ia tidak mencari ayahnya.

Pernah terpikir mengapa?

Kita ingin anak dekat dengan kita.

Kita ingin anak terbuka.

Kita ingin ketika ia punya masalah, orang pertama yang dicarinya adalah ayah dan ibunya—bukan teman, bukan internet, bukan orang asing.

Kita ingin itu semua.

Tetapi terkadang kita lupa satu hal:

Kedekatan anak dengan orang tua bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika anak remaja. Ia dibangun sejak anak masih membawa cerita-cerita kecil yang menurut kita tidak penting.

Dan Surah Yusuf memperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat indah tentang itu.

Ketika Seorang Anak Datang Membawa Cerita

Yusuf kecil datang kepada ayahnya membawa sebuah mimpi.

Ia berkata:

“Wahai ayahku! Sungguh, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
(QS Yusuf: 4)

Sebelas bintang itu ditafsirkan oleh para ulama sebagai saudara-saudara Yusuf, sedangkan matahari dan bulan sebagai ayah dan ibunya. Kelak mimpi itu menjadi kenyataan.

Tetapi perhatikan sesuatu sebelum membicarakan besarnya mimpi tersebut.

Yusuf bercerita kepada ayahnya.

Itu saja dahulu.

Seorang anak mempunyai pengalaman yang mungkin belum ia pahami.

Dan orang yang ia datangi adalah ayahnya.

Bukankah ini yang sebenarnya kita inginkan dari anak-anak kita?

Ketika mereka takut, mereka datang kepada kita.

Ketika mereka bingung, mereka bertanya kepada kita.

Ketika mereka mengalami sesuatu yang aneh, mereka menceritakannya kepada kita.

Ketika kelak mereka mulai mengenal dunia yang lebih luas, mereka tidak perlu menyembunyikan kehidupannya dari rumah.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih berat:

Sudahkah kita menjadi orang tua yang aman untuk didatangi?

Sebab bahasa seorang anak kepada ayahnya hari ini adalah hasil dari ribuan interaksi kecil yang terjadi kemarin.

Jangan Tunggu Ceritanya Menjadi Besar

Kadang seorang anak datang saat kita sedang sibuk.

“Ayah, tadi aku…”

“Sebentar. Ayah lagi kerja.”

Besok ia datang lagi.

“Ayah, lihat ini…”

“Nanti dulu.”

Lusa ia mencoba lagi.

Kita menjawab sambil memegang telepon.

Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar mendengar.

Dan perlahan anak belajar.

“Cerita saya tidak terlalu penting bagi Ayah.”

Awalnya ia berhenti menceritakan mainannya.

Kemudian ia berhenti menceritakan temannya.

Kemudian ia berhenti menceritakan ketakutannya.

Dan suatu hari ketika masalahnya benar-benar besar, ayah terkejut:

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada Ayah?”

Padahal mungkin bertahun-tahun sebelumnya, tanpa sadar, kitalah yang mengajarinya untuk tidak bercerita.

Kedekatan tidak dibangun ketika masalah sudah datang.

Kedekatan dibangun ketika ceritanya masih terlihat remeh.

“Yā Bunayya…”

Setelah mendengar mimpi Yusuf, Nabi Ya’qub عليه السلام menjawab dengan panggilan yang lembut:

يَا بُنَيَّ

“Wahai anakku tersayang…”

Lalu beliau mengingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya karena dikhawatirkan mereka akan membuat makar kepadanya.

Perhatikan keseimbangannya.

Lembut, tetapi tidak naif.

Menyayangi anak bukan berarti menutup mata terhadap bahaya.

Dekat dengan anak bukan berarti membiarkan semuanya.

Nabi Ya’qub mendengarkan, lalu mengarahkan.

Ada cinta.

Ada kewaspadaan.

Ada pendidikan.

Dan bahkan ketika memperingatkan bahaya, beliau mengingatkan bahwa setan adalah musuh manusia.

Al-Qur’an menegaskan:

“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS Al-Baqarah: 168)

Ini pelajaran besar untuk sebuah keluarga.

Jangan sampai anggota keluarga sibuk menjadikan satu sama lain sebagai musuh, sementara musuh yang sebenarnya justru dibiarkan bekerja.

Ayah melawan anak.

Ibu melawan ayah.

Kakak melawan adik.

Semua ingin menang.

Semua ingin membuktikan dirinya benar.

Padahal rumah tidak membutuhkan pemenang.

Rumah membutuhkan orang-orang yang bersama-sama ingin menang melawan setan.

Keluarga Nabi Pun Diuji dengan Masalah

Ada pelajaran lain dari Surah Yusuf yang kadang tidak nyaman untuk kita terima.

Keluarga seorang nabi pun diuji.

Ada kecemburuan.

Ada kedengkian.

Ada kebohongan.

Ada konflik antarsaudara.

Bahkan ada makar terhadap Yusuf.

Artinya, keberadaan masalah tidak otomatis berarti sebuah keluarga gagal.

Yang berbahaya justru ketika keluarga berpura-pura tidak mempunyai masalah.

Ada ayah yang gengsi mengatakan:

“Ayah salah.”

Ada pasangan yang bertahun-tahun menyimpan persoalan karena tidak ada yang mau memulai pembicaraan.

Ada luka antara orang tua dan anak yang semua orang tahu keberadaannya, tetapi semua memilih diam.

Akhirnya masalah itu tidak pernah selesai.

Bukan selalu karena masalahnya terlalu besar.

Tetapi karena masalahnya tidak pernah benar-benar dibicarakan dan diselesaikan.

Kepemimpinan seorang ayah bukan berarti ia harus terlihat selalu benar.

Terkadang kekuatan seorang pemimpin keluarga justru terlihat ketika ia cukup rendah hati untuk duduk dan berkata:

“Kita punya masalah. Mari kita perbaiki bersama sesuai petunjuk Allah.”

Ketika Anak Melakukan Kesalahan Besar

Kemudian datang salah satu bagian paling berat dalam kisah ini.

Saudara-saudara Yusuf pulang membawa bajunya dengan darah palsu.

Mereka berdusta kepada ayah mereka.

Nabi Ya’qub mengetahui ada sesuatu yang tidak benar.

Tetapi lihat respons beliau:

“Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaran yang indah itulah bagiku. Dan hanya kepada Allah aku memohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.”
(QS Yusuf: 18)

Beliau tidak membenarkan perbuatan mereka.

Kesalahan tetap disebut kesalahan.

Tetapi beliau juga tidak kehilangan kendali.

Inilah perbedaan yang harus kita pahami:

Tidak marah secara serampangan bukan berarti tidak tegas.

Sabar bukan berarti membenarkan kemaksiatan.

Lembut bukan berarti tidak mempunyai batas.

Orang tua tetap mendidik.

Tetap menegur.

Tetap memberikan konsekuensi ketika memang diperlukan.

Namun hukuman membutuhkan ilmu.

Bukan sekadar pelampiasan.

Sebab tidak semua anak sama.

Tidak semua usia mempunyai kemampuan memahami konsekuensi yang sama.

Tidak semua kesalahan harus dijawab dengan kadar hukuman yang sama.

Dan kemarahan kita tidak otomatis menjadi ukuran keadilan.

Jangan Sampai Anak Hanya Mengingat Kemarahan Kita

Anak mungkin lupa mainan apa yang kita belikan ketika ia berusia tujuh tahun.

Ia mungkin lupa restoran mana yang kita datangi.

Ia mungkin lupa berapa harga sepatunya.

Tetapi ada kemungkinan ia mengingat sangat lama bagaimana wajah ayah ketika dirinya melakukan kesalahan.

Bagaimana suara ibu ketika ia sedang ketakutan.

Apakah rumah menjadi tempat ia mendapatkan arah…

atau tempat ia semakin merasa terancam.

Karena itu pertanyaan parenting bukan hanya:

“Apakah saya mencintai anak saya?”

Hampir semua orang tua akan menjawab, “Tentu.”

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

“Apakah anak saya bisa menangkap pesan cinta itu?”

Kita merasa bekerja keras karena mencintainya.

Tetapi yang ia tangkap mungkin: Ayah tidak pernah punya waktu.

Kita merasa sedang mendisiplinkannya.

Tetapi yang ia tangkap mungkin: Saya hanya diterima kalau tidak melakukan kesalahan.

Kita merasa sedang menasihati.

Tetapi yang ia dengar setiap hari mungkin hanya kritik.

Cinta yang ada di hati orang tua perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang bisa dirasakan anak.

Terutama kepada anak perempuan, rasa aman dan kasih sayang dari rumah jangan dibuat mahal.

Biarkan ia mengetahui bahwa rumahnya adalah tempat berlindung.

Bahwa ayahnya adalah laki-laki yang menjaga, bukan yang membuatnya takut.

Bahwa kasih sayang tidak perlu ia kejar dari sembarang orang di luar rumah karena ia telah mengenal kasih sayang yang sehat di dalam rumah.

Tetapi kasih sayang tetap berjalan bersama pendidikan agama, batasan dan adab.

Hidayah Bukan Milik Kita

Ada orang tua yang lelah.

“Sudah berkali-kali saya nasihati.”

“Sudah bertahun-tahun.”

“Kenapa anak saya belum berubah?”

Kisah keluarga Ya’qub mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa terhadap hasil.

Tafsir Ibn Katsir menyebut bahwa mimpi Yusuf terwujud puluhan tahun kemudian; terdapat riwayat yang menyebut empat puluh tahun dan ada pula yang mengatakan delapan puluh tahun.

Artinya, kisah ini bergerak dalam rentang waktu yang panjang.

Ada ujian.

Ada perpisahan.

Ada air mata.

Ada kesalahan besar.

Lalu Allah mempertemukan kembali keluarga tersebut dalam keadaan yang sama sekali berbeda.

Maka tugas orang tua bukan memastikan:

“Anakku harus berubah hari ini.”

Tugas kita adalah terus melakukan sebab yang benar.

Mendidik.

Mendoakan.

Menjadi teladan.

Menjaga pintu komunikasi.

Menegakkan batas dengan ilmu.

Meminta pertolongan kepada Allah.

Karena kita mendidik.

Allah yang memberi hidayah.

Mungkin yang Perlu Diperbaiki Bukan Anak Kita Terlebih Dahulu

Malam ini, sebelum kembali bertanya:

“Kenapa anak saya sulit diajak bicara?”

Cobalah bertanya:

“Bagaimana selama ini saya mendengarkan?”

Sebelum bertanya:

“Kenapa anak saya tidak dekat dengan saya?”

Tanyakan:

“Ketika ia mendekat, bagaimana saya menyambutnya?”

Sebelum berkata:

“Anak zaman sekarang susah dinasihati.”

Tanyakan:

“Apakah cara saya menasihati membuat hatinya terbuka atau justru membuatnya membangun tembok?”

Dan sebelum kita menuntut anak mempunyai adab kepada orang tua, jangan pernah berhenti belajar bagaimana orang tua menunaikan amanah kepada anak.

Karena bisa jadi anak kita tidak kekurangan nasihat.

Ia kekurangan telinga yang mau mendengar.

Ia tidak kekurangan aturan.

Ia kekurangan pelukan yang membuat aturan itu terasa sebagai penjagaan, bukan penolakan.

Ia tidak kekurangan orang yang mengatakan bahwa dirinya salah.

Ia membutuhkan ayah dan ibu yang menunjukkan bagaimana kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan.

Maka jadilah rumah yang membuat anak berani pulang.

Bukan hanya pulang membawa nilai bagus.

Bukan hanya pulang ketika ia membanggakan.

Tetapi juga pulang ketika ia gagal.

Pulang ketika ia takut.

Pulang ketika ia melakukan kesalahan.

Pulang ketika dunia di luar sana membuat hatinya berantakan.

Lalu ketika ia mengetuk pintu itu, ia tahu:

“Ayah dan Ibu mungkin tidak akan membenarkan kesalahanku. Tetapi mereka akan membantuku kembali kepada kebenaran.”

Barangkali itulah salah satu warisan terbesar yang bisa ditinggalkan orang tua.

Bukan rumah yang tanpa masalah.

Tetapi rumah yang ketika masalah datang, seluruh penghuninya tahu siapa musuh mereka, kepada siapa mereka meminta pertolongan, dan ke mana mereka harus kembali.

Kepada Allah.

Untukmu Ayah, Faedah dari Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri – Merawat Si Kecil dengan Kelembutan & Keteladanan – Gentle Parenting by Gentle Circle

Exit mobile version