Serambimekkah – “Eits, tunggu dulu! Jangan langsung minum air, makan kurma dulu!”
Kalimat ini mungkin pernah kita dengar—atau bahkan kita ucapkan sendiri—saat adzan Maghrib berkumandang. Momen berbuka puasa memang selalu dinanti, apalagi setelah seharian menahan lapar dan haus. Air dingin yang menyegarkan seringkali jadi pilihan pertama untuk membasahi tenggorokan yang kering. Tapi, benarkah itu cara terbaik untuk berbuka?
Kalau kamu masih suka langsung nyamber air putih begitu adzan berkumandang, mungkin artikel ini bisa jadi pengingat kecil untuk kita semua. Yuk, kita bahas bareng-bareng tentang urutan berbuka puasa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan mengapa hal ini ternyata tidak sekadar ritual biasa!
Urutan Berbuka Puasa yang Sesuai Sunnah
Saat adzan Maghrib berkumandang menandakan waktu berbuka telah tiba, berikut urutan berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah ﷺ :
1. Membaca Basmalah (“Bismillahirrahmanirrahim”)
2. Berbuka dengan Ruthob (kurma basah) atau Tamr (kurma kering) jika ada
3. Minum seteguk air putih
4. Membaca doa berbuka puasa:
ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
“Dzahaba-zh Zhama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah”
Yang artinya: “Telah hilang dahaga, urat-urat kerongkongan telah basah, dan telah diraih pahala, insyaa Allah.”
Doa ini diriwayatkan dalam Hadits Abu Daud nomor 2357 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.
Referensi dari Sunnah Nabi
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan sholat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, serta dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.
Kenapa Harus Kurma Dulu, Baru Air Putih?
Nah, pernah nggak sih kepikiran, kenapa harus kurma dulu baru air putih? Kenapa bukan sebaliknya? Atau kenapa bukan makanan lain? Ternyata, ada banyak hikmah dan manfaat kesehatan di balik kebiasaan ini.
1. Kurma: Si Manis yang Tidak Biasa
Kurma bukan sekadar camilan manis biasa. Buah yang satu ini punya kandungan gula alami yang langsung diserap tubuh, memberikan energi instan yang sangat dibutuhkan setelah seharian berpuasa. Gula dalam kurma, terutama glukosa dan fruktosa, memberikan energi cepat tanpa membuat gula darah melonjak drastis.
Pernah merasa pusing atau lemas saat berbuka? Itu bisa jadi karena kadar gula darah yang turun selama berpuasa. Kurma hadir sebagai solusi sempurna—menyuplai energi dengan cepat tanpa membebani sistem pencernaan yang ‘sedang istirahat’ seharian.
2. Air Setelah Kurma: Kombinasi Sempurna
Tapi kenapa harus minum air setelah kurma, bukan sebelumnya?
Pertanyaan bagus! Saat kita minum air putih langsung setelah berpuasa, air tersebut akan langsung menuju lambung yang kosong dan cepat terserap. Ini memang melegakan dahaga, tapi tidak optimal untuk metabolisme tubuh.
Ketika makan kurma dulu, gula alami kurma akan membantu merangsang produksi enzim pencernaan. Kemudian, saat air diminum setelahnya, air tersebut membantu mengaktifkan sistem pencernaan dengan lebih lembut. Kombinasi ini membantu mengurangi risiko gangguan pencernaan seperti kram perut atau mual yang kadang terjadi saat berbuka.
Jadi, urutan “kurma lalu air” ini bukan sekedar ritual tanpa makna, tapi benar-benar punya dasar ilmiah yang masuk akal!
https://ygi.or.id/ketahui-8-manfaat-kurma-bagi-tubuh-dan-saluran-cerna-kita/
Indonesian Journal of Health, Vol. 2 No. 1 (Oktober, 2021) : 18-30
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol.2 No.6 (Juni, 2022): E-ISSN: 2808-9146
3. Testimoni dari Tubuh Kita Sendiri
Coba deh perhatikan, bagaimana rasanya saat berbuka langsung dengan air putih, dibandingkan dengan makan kurma terlebih dahulu?
Saya sendiri pernah mengalami. Ketika belum tahu urutan yang benar sesuai sunnah, saya seringkali langsung minum air dingin yang banyak begitu adzan Maghrib berkumandang. Hasilnya? Sering kali perut terasa tidak nyaman, atau bahkan masih terasa lapar meski sudah minum banyak.
Setelah mengikuti sunnah—kurma dulu baru air—perbedaannya terasa banget! Tubuh terasa lebih segar, energi pulih lebih cepat, dan yang penting, perut tidak mengalami “shock” karena transisi yang terlalu mendadak dari puasa ke makan.
Fakta Menarik tentang Kurma yang Jarang Diketahui
Kurma nggak cuma enak, tapi juga punya segudang manfaat kesehatan yang bikin buah ini makin istimewa sebagai menu berbuka:
1. Mineral Lengkap: Kurma mengandung kalium, magnesium, dan zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh setelah seharian berpuasa.
2. Serat Tinggi: Meski rasanya manis, kurma punya serat yang membantu mencegah lonjakan gula darah dan membuat kita merasa kenyang lebih lama.
3. Anti-inflamasi Alami: Kandungan antioksidan dalam kurma membantu meredakan peradangan dalam tubuh.
4. Vitamin Kompleks: Kurma kaya akan vitamin A, B, dan K yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
5. Energi Bertahap: Menariknya, kurma memberikan energi dalam dua tahap—cepat dari gulanya, dan bertahap dari serat dan nutrisi lainnya. Ini membantu kita tetap berenergi selama sholat Maghrib hingga waktu makan utama.
Begitu ya? Pantesan Rasulullah ﷺ selalu mengutamakan kurma saat berbuka. Beliau memang sudah memberikan teladan yang sempurna, bahkan dari hal-hal yang tampak sederhana seperti urutan berbuka puasa.
Varian Kurma: Mana yang Lebih Baik untuk Berbuka?
Dalam hadits, Rasulullah ﷺ menyebutkan dua jenis kurma: ruthob (kurma basah) dan tamr (kurma kering). Tapi, apa bedanya, dan kenapa ruthob lebih diutamakan?
Ruthob (Kurma Basah):
– Kadar air lebih tinggi (sekitar 30-35%)
– Tekstur lebih lembut dan berair
– Rasa lebih segar dan tidak terlalu manis
– Contoh: Kurma Ruthob Libya, Kurma Ruthob Afiat
Tamr (Kurma Kering):
– Kadar air lebih rendah (sekitar 10-15%)
– Tekstur lebih keras dan kering
– Rasa lebih manis dan pekat
– Contoh: Kurma sukkari, Kurma Bam, Golden Palm Tunisia
Kenapa ruthob lebih diutamakan? Selain rasanya yang lebih segar, kadar airnya yang lebih tinggi membantu menghidrasi tubuh dengan lebih cepat. Namun, karena kurma basah harganya lebih mahal, kurma kering adalah alternatif yang tetap sangat baik.
Bagaimana jika Tidak Ada Kurma?
“Waduh, lupa beli kurma nih! Terus gimana dong?”
Tenang, hadits di atas juga memberikan solusi. Jika tidak ada kurma, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk berbuka dengan seteguk air. Tapi kalo boleh usul, mencari alternatif yang mirip kurma juga bisa jadi pilihan:
1. Buah-buahan Manis: Seperti anggur, kurma jawa (duwet), atau pisang yang mengandung gula alami.
2. Madu: Setengah sendok teh madu dicampur air hangat juga bisa jadi alternatif yang baik.
3. Makanan Manis Alami Lainnya: Kolak pisang atau kolak ubi juga bisa jadi pilihan yang baik, meski tetap dianjurkan untuk tidak langsung makan dalam porsi besar.
Yang penting, prinsipnya adalah memberikan gula alami terlebih dahulu untuk merangsang sistem pencernaan dengan lembut. Tapi memang, kurma tetap pilihan terbaik yang sesuai sunnah.
Seberapa Penting Mengikuti Urutan Ini?
Sekarang pertanyaannya: seberapa penting sih mengikuti urutan berbuka ini? Apakah akan berdosa jika kita berbuka dengan cara yang berbeda?
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa ini adalah sunnah, bukan kewajiban. Tidak mengikutinya bukan berarti puasa kita batal atau tidak sah. Namun, sebagai Muslim, kita tentu ingin mendapatkan manfaat dan pahala maksimal dari ibadah kita, bukan?
Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dalam berbuka puasa memberi kita dua keuntungan sekaligus:
1. Pahala mengikuti sunnah
2. Manfaat kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah
Jadi, meski bukan kewajiban, mengikuti urutan berbuka yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah bentuk cinta kita kepada beliau dan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri. Win-win solution banget, kan?
Tips Praktis Menerapkan Sunnah Berbuka
Supaya lebih mudah mengikuti sunnah berbuka, berikut beberapa tips praktis:
1. Siapkan Kurma dari Rumah: Bawa beberapa butir kurma dalam wadah kecil jika bepergian saat waktu berbuka.
2. Kurma ‘Emergency‘: Simpan stok kurma kering yang tahan lama di tas, mobil, atau tempat kerja untuk antisipasi.
3. Set Reminder: Pasang pengingat di HP dengan tulisan “Kurma dulu, baru air!” agar tidak lupa saat momen berbuka tiba.
4. Buat ‘Paket Berbuka’: Siapkan plastik kecil berisi 3 butir kurma dan sebotol air putih sebelum waktu berbuka tiba.
5. Berbagi Pengetahuan: Ingatkan keluarga atau teman yang berbuka bersama tentang urutan yang benar dengan cara yang lembut.
6. Ajarkan Anak-anak: Biasakan anak-anak dengan urutan berbuka yang benar sejak dini, sambil menjelaskan hikmahnya.
Dengan tips sederhana ini, insyaa Allah akan lebih mudah bagi kita untuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dalam berbuka puasa.
Yang Sering Terabaikan: Kecepatan Berbuka
Ada satu aspek sunnah berbuka yang sering terabaikan: kecepatan berbuka. Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk menyegerakan berbuka begitu waktu Maghrib tiba.
Dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Diriwayatkan dalam Hadits Bukhari nomor 1957 dan Muslim nomor 1098.
Ini artinya, selain memperhatikan urutan berbuka, kita juga dianjurkan untuk tidak menunda-nunda berbuka. Jadi, begitu adzan Maghrib berkumandang, segeralah berbuka dengan kurma dan air putih sesuai urutan yang diajarkan.
Kesalahan Umum saat Berbuka
Saat ramainya sajian berbuka, ada beberapa kesalahan yang sering kita lakukan:
1. Minum Air Dingin Langsung Banyak: Selain tidak sesuai sunnah, ini juga bisa membuat lambung “kaget” dan menyebabkan kram perut.
2. Langsung Makan Berat: Mengonsumsi makanan berat segera setelah berbuka bisa membebani sistem pencernaan yang baru aktif kembali.
3. Skip Kurma, Langsung Gorengan: Gorengan memang menggoda, tapi langsung mengonsumsinya tanpa kurma atau makanan pembuka yang tepat bisa membuat perut tidak nyaman.
4. Lupa Baca Doa: Dalam momen bahagia berbuka, kadang kita lupa membaca doa berbuka yang memiliki makna mendalam.
5. Berbuka Sambil Main HP: Fokus pada layar HP membuat kita kurang menghayati nikmatnya berbuka puasa dan bisa membuat kita makan berlebihan tanpa kita sadari.
Yuk, hindari kesalahan-kesalahan ini agar berbuka kita lebih berkah dan menyehatkan!
Berbuka ala Rasulullah = Intermittent Fasting Modern?
Menariknya, pola makan yang diajarkan Rasulullah ﷺ, termasuk cara berbuka dengan kurma dan tidak berlebihan, ternyata sangat mirip dengan konsep “intermittent fasting” yang sedang tren dalam dunia kesehatan modern.
Intermittent fasting menekankan pentingnya makan dengan bijak saat “jendela makan” dibuka—persis seperti yang diajarkan dalam sunnah berbuka puasa. Berbuka dengan makanan manis alami seperti kurma, dilanjutkan dengan air, lalu makanan ringan, dan baru kemudian makanan utama setelah sholat Maghrib—pola ini ternyata sangat ideal untuk metabolisme tubuh.
Sekali lagi, sunnah Rasulullah ﷺ membuktikan relevansinya, bahkan di era modern dengan semua penelitian ilmiahnya. Subhanallah!
Penutup: Kecil tapi Bermanfaat Besar
Urutan berbuka “kurma dulu, baru air putih” mungkin terlihat seperti hal kecil dan sepele. Tapi seperti yang sudah kita bahas, di balik urutan sederhana ini terdapat hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik dari segi spiritual maupun kesehatan.
Dengan mengikuti sunnah ini, kita tidak hanya mendapatkan pahala mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ, tetapi juga memberikan tubuh kita asupan terbaik setelah seharian berpuasa.
Jadi, yuk sama-sama ingat: “Kurma dulu, baru air putih. Jangan kebalik!” Sebarkan pengetahuan ini kepada orang-orang terdekat agar semakin banyak yang merasakan manfaatnya.
Baarakallaahu Fiikum. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua.
—
*Catatan: Artikel ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri dan pembaca. Jika ada kesalahan, hanya dari kelemahan penulis. Jika ada kebenaran, semata-mata dari Allah SWT.*
“Jangan biarkan pahala berhenti di kamu—bagikan sekarang dan jadilah bagian dari dakwah yang terus mengalir!”

