MEDIA SERAMBI MEKKAH, Bogor, Jawa Barat – Perdagangan kayu gaharu asal Indonesia disebut masih memiliki pasar kuat di kalangan wisatawan Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang berkunjung ke kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seorang pedagang di Puncak menyebut kayu gaharu dibeli sebagai kebutuhan tradisi wewangian rumah dan acara keluarga, dengan jenis Kalimantan dan Merauke menjadi yang paling banyak dicari.
Narasumber yaitu Zaky Alhabsyi yang memperkenalkan usahanya sebagai Al Amanah menjelaskan bahwa penjualan kayu gaharu yang ia tekuni lebih banyak menyasar konsumen Timur Tengah. “Saya lebih fokus ke orang-orang Timur Tengah, terutama Arab Saudi,” ujarnya.
Ia menyebut, bagi sebagian masyarakat di Timur Tengah, terutama kawasan Teluk, aroma kayu gaharu merupakan bagian dari kebiasaan menjamu tamu. “Wajib ada aroma gahru… baik dalam acara undangan harian, undang makan malam, apalagi acara pernikahan,” kata narasumber.
Dalam rekaman yang sama, Zaky juga memaparkan sejumlah jenis kayu gaharu Indonesia yang dikenal di pasar, cara membedakan kualitas, hingga kisaran harga kayu dan minyak gaharu yang ia perdagangkan.
Kayu Gaharu dan Tradisi Menjamu Tamu di Timur Tengah
Zaky Alhabsyi menjelaskan, konsumsi kayu gaharu di Timur Tengah tidak semata untuk koleksi, melainkan terkait tradisi. Ia menggambarkan urutan jamuan yang umum ditemui: kopi (gahwa), kurma, kemudian pembakaran kayu gaharu untuk mengharumkan ruangan dan pakaian.
Dalam keterangannya, ia menyebut kayu gaharu kerap digunakan untuk kebutuhan rumah, masjid, dan berbagai acara. “Orang-orang Timur Tengah… dia lebih suka kayu gahru. Aroma untuk rumahnya, aroma untuk masjid,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa karena kebiasaan tersebut, permintaan kayu gaharu meningkat pada momen tertentu, seperti Ramadhan atau musim libur panjang di negara-negara Timur Tengah. Narasumber menyebut puncak kunjungan wisatawan umumnya terjadi pada pertengahan tahun, seiring libur musim panas.
Jenis Kayu Gaharu yang Paling Dicari: Kalimantan dan Merauke
Zaky Alhabsyi menyebut Indonesia memiliki banyak jenis kayu gaharu, namun ada beberapa yang paling populer di pasar Timur Tengah.
“Yang terkenal di Timur Tengah itu Kalimantan dan Merauke,” ujarnya. Ia juga menyebut ada daerah yang dikenal menghasilkan kualitas tinggi. “Ada daerah namanya Malinau. Itu yang paling bagus di Indonesia,” kata narasumber saat menjelaskan gaharu Kalimantan.
Selain Kalimantan dan Merauke, ia menyebut ada gaharu dari Sumatera (misalnya Palembang dan Jambi), Banten (Ujung Kulon), Sumbawa, hingga wilayah timur seperti Ambon dan Pulau Seram. Namun menurutnya, tidak semua jenis langsung dikenal oleh pembeli luar negeri. “Mereka kalau dengar Ambon masih termasuk asing,” katanya, seraya menegaskan konsumen banyak bertanya dua jenis yang paling populer.
Pada bagian lain, ia menyebut gaharu Sumbawa pernah dikenal lebih dulu, namun kini pasokan lama lebih sering berasal dari Kalimantan dan Merauke. “Sumbawa… termasuk kayu lama juga sebelum Kalimantan… sekarang yang lama itu dari Kalimantan dan Merauke,” ujarnya.
Cara Menilai Kualitas Kayu Gaharu: Dibakar di Arang
Narasumber menekankan bahwa penilaian kualitas kayu gaharu tidak cukup dengan melihat bentuk. Ia menyebut kayu gaharu pada kondisi mentah sering kali tidak mengeluarkan aroma kuat sebelum dipanaskan.
“Kalau kita cium kayu gaharu enggak ada aroma, Pak. Kita ambil arang, kita bakar… aromanya beda-beda,” katanya.
Ia menerangkan bahwa salah satu pembeda utama adalah kadar resin/minyak pada kayu. Kayu dengan kandungan minyak lebih banyak biasanya lebih “berbobot” dan aromanya lebih tahan lama ketika dibakar.
“Kalau yang kelas bagus karena minyaknya banyak itu dia tahan… kalau yang minyaknya sedikit dia cepat hangus,” ujarnya.
Dalam rekaman juga muncul penjelasan mengenai proses terbentuknya gaharu secara alami, yakni bagian kayu tertentu (serat/urat yang menghitam) yang mengandung resin, yang kemudian menjadi sumber aroma ketika dibakar.
Produk Turunan: Minyak Gaharu dan “Buhur/Makmul”
Selain kayu, Zaky Alhabsyi menjelaskan adanya minyak gaharu hasil penyulingan, serta produk turunan dari ampas penyulingan.
Ia menyebut minyak gaharu diperoleh dari sisa pecahan kayu yang disuling. “Kayu dari sisa-sisa pecahan… disuling jadi minyak,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam rantai produksi, hampir tidak ada bagian yang terbuang. “Di gaharu ini enggak ada yang kebuang,” katanya.
Ampas penyulingan, menurutnya, bisa diolah menjadi bahan pembakaran wewangian yang di sebagian daerah dikenal sebagai bohor atau spanggi, sementara ia menyebut istilah lain seperti makmul. Namun ia mengingatkan bahwa kualitas dan kegunaan produk turunan berbeda dengan kayu atau minyak murni.
Narasumber juga menyinggung adanya produk “buatan” (rekayasa) di pasar, di mana kayu kualitas rendah diproses agar beraroma lebih kuat. Dalam rekaman, ia menyebut salah satu istilah yang dipakai pedagang adalah “snai”.
Peringatan Soal Produk Buatan dan Proses Kimia
Pada bagian percakapan lain, narasumber menyampaikan kekhawatiran terkait proses tertentu yang diduga menggunakan bahan kimia untuk mengeluarkan atau memasukkan kembali getah/resin agar kayu tampak lebih wangi.
Ia menuturkan bahwa pada praktik tertentu, ada penggunaan bahan seperti metanol dalam proses. “Ketika prosesnya… dia pakai metanol,” ujarnya. Karena itu, ia menyebut penjemuran menjadi bagian penting agar sisa bahan menguap. “Yang buatan itu minimal seminggu dijemur… harus matahari,” kata narasumber.
Pernyataan ini merupakan penjelasan narasumber berdasarkan pengalamannya di lapangan. Serambi Mekkah belum memverifikasi secara independen seluruh metode produksi yang ia sebutkan, termasuk penggunaan bahan tertentu oleh pihak-pihak di luar usahanya.
Harga Kayu Gaharu dan Minyak Gaharu di Puncak
Zaky Alhabsyi memaparkan kisaran harga yang ia sebut berlaku di tempatnya, terutama untuk konsumen wisatawan.
“Paling mahal kita di Rp60 juta per kilo,” katanya, sambil menyebut jenis yang dimaksud adalah Kalimantan pada kelas tertentu. Ia menambahkan, untuk kelas lebih tinggi yang biasanya dibeli pebisnis, harga dapat melampaui Rp100 juta per kilogram. “Kalau pebisnis… itu yang di atas Rp100 juta,” ujarnya.
Untuk minyak gaharu, narasumber menjelaskan ukuran penjualan yang ia sebut lazim dipakai, misalnya 6 mililiter dan 12 mililiter (yang ia sebut “tolak/tholah” dalam percakapan). Ia menyebut kisaran harga berbeda tergantung jenis dan kualitas.
“Kalau kelas Kalimantan ini sekitar Rp1 juta… ada lagi yang Malinau… sekitar Rp2 juta,” ujarnya, merujuk pada kemasan 12 mililiter.
Ia juga menyampaikan bahwa minyak maupun kayu gaharu tidak mengenal kedaluwarsa secara ketat seperti produk konsumsi lain, bahkan disebut dapat meningkat nilainya seiring waktu tertentu. “Ini enggak ada expired. Dan ini makin lama tuh makin mahal,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan pengalaman narasumber dalam jual-beli, dan tetap perlu dipahami bahwa harga komoditas dapat berubah bergantung pada kualitas, ketersediaan pasokan, dan permintaan pasar.
Cara Penjualan: Banyak Mengandalkan Kunjungan Wisatawan dan Rekomendasi
Narasumber mengaku tidak gencar beriklan sendiri, melainkan banyak bergantung pada promosi dari pelanggan. “Saya sendiri enggak pernah iklankan… cuma dengan kepercayaan mereka,” ujarnya.
Ia mengatakan pembeli yang puas kerap merekomendasikan melalui media sosial. “Dengan adanya media… TikTok, Snapchat… mereka yang mengiklankan kita,” katanya.
Ia juga menyebut adanya pengiriman jarak jauh melalui jasa ekspedisi tertentu. “Ada ekspedisi khusus pengiriman kayu gaharu ke Timur Tengah,” ujarnya.
Faktor yang Mempengaruhi Penjualan: Penerbangan dan Situasi Geopolitik
Pengusaha Al-Amanah ini menyinggung bahwa penjualan sangat dipengaruhi akses penerbangan dan situasi keamanan kawasan, karena sebagian besar pembeli adalah wisatawan Timur Tengah yang datang langsung ke Puncak.
“Perang tuh ngefek… lebih ke airline,” ujarnya. Ia mengatakan, bila penerbangan terganggu, maka pengiriman dan kedatangan wisatawan ikut terdampak. Ia menyebut penurunan kunjungan dapat terasa hingga puluhan persen pada periode tertentu.
Meski begitu, ia menyebut teknologi komunikasi membuat pemesanan jarak jauh tetap bisa dilakukan selama jalur pengiriman tersedia. “Kalau ada penerbangan aman walaupun mereka enggak datang kita bisa online,” katanya.
Catatan Etika dan Keamanan Transaksi
Narasumber juga menekankan pentingnya kepercayaan dan kejujuran dalam jual-beli kayu gaharu, karena menurutnya ada potensi praktik pencampuran kualitas.
“Teman-teman kita pun yang jual kayu gahru enggak semua amanah… bisa saja kelas satu dicampur dengan kelas tiga,” ujarnya. Ia menyebut usaha yang ia jalankan menekankan kejelasan kelas dan kualitas agar pelanggan merasa aman.
Pada bagian lain, narasumber mengingatkan bahwa transaksi berbasis video atau foto bisa menimbulkan perbedaan persepsi, misalnya karena pencahayaan kamera yang membuat warna kayu terlihat berbeda. Karena itu, ia menyatakan pelanggan biasanya perlu pengalaman untuk menilai kualitas dari aroma saat dibakar.
Konteks: Gaharu sebagai Komoditas Wewangian Bernilai Tinggi
Zaky Alhabsyi menggambarkan kayu gaharu sebagai komoditas bernilai tinggi yang penggunaannya berbeda antara kelompok konsumen. Ia menyebut ada pasar yang membeli untuk dibakar sebagai wewangian, sementara ada juga yang memburu bentuk gelondongan atau potongan besar untuk keperluan lain.
Ia menegaskan bahwa bagi pasar Timur Tengah yang ia layani, fungsi utamanya adalah aroma. Sementara bagi kalangan tertentu di pasar lain, ia menyebut ada orientasi berbeda, misalnya untuk dekorasi atau koleksi.
Meski demikian, narasumber menilai kunci utama dalam perdagangan kayu gaharu adalah konsistensi kualitas dan pemahaman jenis, karena satu jenis dapat memiliki banyak kelas berbeda.
Zaky juga menyinggung beberapa kebiasaan konsumsi wewangian di Timur Tengah, termasuk penggunaan kopi Arab (gahwa) dan kurma dalam menjamu tamu. Ia menyebut aroma kayu gaharu dan minyak tertentu seperti wangi mawar (yang dalam percakapan disebut wared) dikenal luas sebagai bagian dari tradisi, termasuk di area-area ibadah di Tanah Suci.

