BOGOR, JAWA BARAT (Serambi Mekkah) – Kebun Lapak Bibit di Kampung Muara Beres, Cibinong, Kabupaten Bogor, menjadi pusat pengembangan anggur impor yang menjanjikan di Indonesia
Dengan lebih dari 30 varian bibit anggur impor yang berhasil dikembangkan di wilayah subtropis dan tropis ini, membuktikan bahwa anggur dapat tumbuh di iklim tropis seperti di Indonesia.
Ruslan, pemilik kebun tersebut menjelaskan, “di belakang saya ini ada macam-macam bibit anggur impor ukuran 50 cm. Ini ada sekitar 30 varian lebih bibit-bibit anggur impor yang dikembangkan di lapak tersebut”.
Menurut Ruslan, bibit-bibit anggur impor ini buahnya bermacam-macam ya. Ada yang warna hijau, hitam, kuning, kemudian bentuknya juga ada yang oval, ada yang bulat, ada yang lonjong.

Salah satu varian yang berhasil dikembangkan adalah Baikonur, yang telah berbuah di Kebun Lapak Bibit Anggur, anggur impor ini terbukti dapat berbuah di iklim tropis seperti Indonesia, meskipun berasal dari wilayah subtropis.
“Dari bibit hingga berbunga, tanaman anggur ini membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.” tutur Ruslan.
Kebun tersebut mengembangkan bibit anggur dengan menerapkan berbagai sistem penanaman, termasuk metode konvensional, semi hidroponik (menggunakan media tanam konvensional dengan penyiraman dan pemupukan menggunakan AB mix), dan hidroponik penuh, sebagaimana dijelaskan oleh Ruslan.
Hidroponik adalah metode pertanian modern yang memungkinkan tanaman tumbuh tanpa menggunakan tanah, sedangkan AB mix adalah nutrisi hidroponik yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu pupuk A dan pupuk B, yang dicampur untuk memberikan nutrisi lengkap bagi tanaman hidroponik.
“Sistem hidroponik penuh di Kebun Lapak Bibit menggunakan media tanam kokopit dan sekam bakar dengan penyiraman sepenuhnya menggunakan AB mix,” kata Ruslan seraya menunjukkan contoh tanaman anggur, “ini variannya varian Tamaki ya, dia sudah berbuah ini anggur yang berwarna hijau. Nanti matangnya dan dia rasanya seperti sen muskat.”
Kebun tersebut juga menawarkan tanaman anggur ukuran semi indukan setinggi sekitar dua meter bagi pecinta tanaman yang ingin hasil lebih cepat, dengan tanaman ini biasanya mulai berbunga dalam waktu tiga bulan.
Ruslan menekankan bahwa anggur dapat ditanam dengan berbagai metode, termasuk cara konvensional tanpa AB mix, sambil menunjukkan contoh dan menjelaskan, “Ini contoh tanaman anggur yang ditanam di pot dengan media tanam konvensional full”.
Artinya media tanamnya media tanam seperti biasa konvensional menggunakan sekam mentah, sekam bakar, kohe kambing, kemudian pakai tanah atau pasir, Ruslan menambahkan.
Tempat pembibitan buah anggur ini memiliki koleksi sekitar 50 varian tanaman anggur indukan dan 30 varian bibit siap tanam, dengan salah satu contoh keberhasilan mereka adalah anggur varian Mres Bid enam yang ditanam menggunakan sistem rambatan tipe Y, yang menurut Ruslan, “Ini usia sekitar enam bulan dari tanam, dia sudah banyak nih buahnya”.
Ruslan menjelaskan bahwa meskipun pengembangan anggur impor di Indonesia menunjukkan hasil menjanjikan, buah anggur impor yang dikembangkan di dalam negeri belum beredar di pasaran.
Ia juga menyatakan, “saat ini yang paling ngebunin masih baru skalanya kebun agro petik buah. Tapi kalau kebun produksi tanaman buah anggur itu belum ada di seluruh Indonesia”.
Optimisme Ruslan pun melingkupi industri anggur Indonesia: “Prospek tanaman anggur ini masih sangat panjang karena baru mulai memasyarakat sepenuhnya juga belum,” begitu pandang Ruslan, yang juga menyoroti dominasi anggur impor dari China dan Jepang di supermarket lokal.
Perkembangan agrowisata anggur mulai terlihat di beberapa daerah Indonesia, Ruslan menjelaskan, “Kalau di Bandung ada Frizco, ada Apih, kalau di Cangri di Bandung. Jadi memang masih bentuknya kebun petik buah, agrowisata petik buah,” meski industri ini masih dalam tahap awal pertumbuhannya.

Pengembangan anggur di Indonesia menghadapi tantangan unik akibat perbedaan iklim, sebagaimana diuraikan Ruslan, “Dikarenakan tanaman anggur itu tanaman subtropis, jadi ketika ditanam di iklim tropis dia memiliki tantangan tersendiri. Misalnya kalau tanaman anggur itu dia ditanam dapat tumbuh dengan bagus kalau dia tidak kehujanan.”
Guna mengatasi kendala iklim dalam budidaya anggur di tanah air, pemilik kebun ini mengusulkan beberapa strategi: penggunaan naungan UV atau greenhouse untuk penanaman, serta alternatif berupa pemanfaatan teras rumah yang mendapat sinar matahari langsung setidaknya 6 jam per hari, demikian saran Ruslan.
Pemangkasan juga berperan vital dalam keberhasilan budidaya anggur di iklim tropis Indonesia, seperti ditekankan oleh pemilik kebun ini, “Jadi kalau di iklim tropis seperti Indonesia, pemangkasan itu sangat penting untuk memicu pembungaan dan pembuahan,” demikian Ruslan menegaskan pentingnya teknik hortikultura tersebut.
P4S Sukahati Mandiri, bermitra dengan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) khususnya KPMI Koordinator Wilayah (Korwil) Bogor, dan juga secara rutin menyelenggarakan pelatihan budidaya anggur bagi masyarakat yang berminat, ujarnya.
Ruslan juga menjelaskan, “Kita ada pelatihan budidaya anggur. Disitu kita bahas mulai dari media tanam, kemudian pemilihan bibit, kemudian perawatan sampai pemupukan dan cara merawat buahnya,” ungkapnya seraya menggambarkan cakupan komprehensif dari program edukasi tersebut.
Setiap bulan pada pekan pertama, pelatihan budidaya anggur ini diselenggarakan dengan biaya Rp300.000, menawarkan peserta berbagai fasilitas: dua bibit siap tanam, dua bibit cutting untuk praktik grafting, e-book materi budidaya anggur, e-certificate, serta kesempatan bergabung dalam grup alumni pelatihan, menjadikannya paket lengkap bagi mereka yang ingin mendalami budidaya anggur.
Ruslan mengungkapkan optimismenya tentang prospek budidaya anggur di Indonesia, menyatakan, “Buat para pecinta tanaman dan warga masyarakat umumnya, tanaman anggur itu ke depannya masih sangat-sangat prospek”.
Pertama, buah anggur itu merupakan buah yang sangat digemari oleh masyarakat umumnya. Masyarakat atau sebagian besar masyarakat pasti suka buah anggur,” menggambarkan potensi besar industri ini berdasarkan popularitas buah anggur di kalangan masyarakat.
Lebih lanjut, pelaku budidaya anggur ini menyoroti peluang pasar yang belum tergarap, dengan mengatakan, “Buah anggur yang beredar di pasaran itu masih didatangkan dari luar negeri, diimpor dari luar negeri. Nah, jadi ketika kita bisa membudayakan anggur bisa membuahkan dengan baik, tentu pasar buahnya masih sangat terbuka luas,” menggarisbawahi potensi besar bagi petani lokal untuk memasuki dan memenuhi permintaan pasar domestik yang saat ini masih bergantung pada impor.
Anggur mencatat peningkatan produksi yang signifikan dalam tiga tahun terakhir, menurut data Badan Statistik Pertanian (BPS). Produksi anggur Indonesia pada 2022 mencapai 13.515 ton, meningkat dari 11.905 ton pada 2020. Meskipun demikian, kebutuhan masyarakat masih tergantung pada impor, dengan angka impor yang mencapai 101.899 Ton senilai 330.407.068 dolar AS pada 2022, menurut data BPS.
Produksi anggur di Indonesia mengalami fluktuasi dari 13.723 ton pada 2019, turun menjadi 11.905 ton pada 2020, lalu meningkat kembali menjadi 12.164 ton pada 2021 dan mencapai puncaknya di 13.516 ton pada 2022 selanjutnya sedikit menurun ke 13.405 ton pada 2023.
Berarti dari data di atas menunjukkan sekitar satu berbanding tujuh antara produksi domestik anggur yang mencapai 13.515 ton pada 2022, sementara kebutuhan yang jauh lebih besar masih dipenuhi oleh impor sebanyak 101.899 ton pada 2022.
Ini menunjukkan potensi pasar domestik yang belum tergarap secara optimal.
Pemilik kebun lapak bibit tersebut menyambut antusiasme masyarakat pada budidaya anggur, dengan harapan Indonesia dapat bertransformasi menjadi produsen anggur yang mandiri dan mampu memenuhi permintaan domestik serta berpotensi menembus pasar ekspor di masa mendatang.
Ruslan menekankan bahwa pengembangan varietas anggur impor di tanah air tidak hanya menjanjikan keuntungan ekonomi, tetapi juga membuka peluang baru dalam diversifikasi sektor pertanian dan memperkaya lanskap agrowisata Indonesia.
(Laporan Indonesia Window) (Serambi Mekkah)








Tinggalkan Balasan