Bayangkan sebuah perjalanan panjang di malam yang gelap. Tanpa cahaya, kita akan tersesat. Nah, begitulah doa dalam kehidupan kita, terutama dalam mendidik anak-anak kita. Doa adalah cahaya yang menerangi jalan mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan.

Syaikh Abdurrazzaq dalam bukunya “10 Pilar Pendidikan Anak” mengajarkan bahwa doa adalah salah satu pilar terpenting dalam mendidik anak. Sebelum anak hadir di dunia, kita sudah dianjurkan untuk memohon kepada Allah agar diberi keturunan yang shalih. Ingatlah Nabi Ibrahim AS, yang dengan penuh harap berdoa, 

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” (QS. Ash-Shaffat: 100). Doa ini adalah cermin harapan seorang ayah untuk masa depan anaknya yang penuh berkah.

Setelah anak lahir, doa tidak berhenti di situ. Seperti menanam benih, kita harus terus menyiraminya dengan doa agar tumbuh subur. Nabi Ibrahim AS kembali berdoa, 

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40). Doa ini menunjukkan betapa pentingnya kita sebagai orang tua untuk terus memohon kepada Allah agar anak-anak kita diberi petunjuk dan keteguhan dalam agama.

Nabi Zakariya AS juga berdoa dengan penuh harap, 

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa” (QS. Ali Imran: 38). Doa-doa para Nabi ini adalah teladan bagi kita bahwa doa adalah jembatan yang menghubungkan harapan kita dengan rahmat Allah.

Diantara doa yang paling sering dipanjatkan oleh hamba-hamba Allah yang shalih adalah, 

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan: 74). Doa ini menggambarkan keinginan untuk memiliki keluarga yang harmonis dan penuh berkah.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang kekuatan doa orang tua. Beliau bersabda, 

“Ada tiga macam doa yang pasti diterima tanpa ragu lagi, yaitu: doa bapak, doa musafir, dan doa dari orang yang teraniaya” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Albani). Jadi, setiap kali kita mendoakan anak-anak kita, ingatlah bahwa doa itu tidak akan sia-sia.

Namun, ada satu hal yang perlu diwaspadai. Jangan sampai dalam kemarahan, kita tergoda untuk mendoakan hal-hal buruk bagi anak-anak kita. Rasulullah SAW memperingatkan, 

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, serta jangan mendoakan kejelekan untuk harta kalian. Janganlah kalian berdoa seperti itu karena boleh jadi bersesuaian dengan satu waktu dari Allah yang jika Dia diminta sesuatu pada waktu tersebut, Dia pasti mengabulkannya untuk kalian” (HR. Muslim). Bayangkan betapa dahsyatnya jika doa buruk kita diucapkan di saat yang mustajab, na’udzubillah.

Allah SWT berfirman, 

“Dan Manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa” (QS. Al-Isra: 11). Sebuah peringatan bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam berucap, terutama saat marah.

Qatadah berkata, “Ia mendoakan keburukan atas hartanya, lalu ia melaknat harta dan anak-anaknya. Kalau sekiranya Allah mengabulkan doanya, niscaya Allah akan membinasakannya.” Al ‘Alamah Abdurrahman As Sa’diy menambahkan, “Ini merupakan kebodohan manusia dan ketergesaannya manakala ia mendoakan keburukan atas diri, anak, dan hartanya ketika marah. Lalu ia bersegera mendoakan keburukan sebagaimana ia bersegera dalam mendoakan kebaikan.”

Mari kita renungkan. Doa adalah jembatan antara harapan kita dan kasih sayang Allah. Dengan doa, kita tidak hanya memohon kebaikan bagi anak-anak kita di dunia, tetapi juga di akhirat. Doa adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan kita rasakan, in sya a Allah, dalam bentuk anak-anak yang shalih dan shalihah.

Jangan pernah lelah untuk berdoa. Selalu libatkan doa dalam setiap aspek kehidupan kita. Saat pagi, bisa dzikir pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah, mari mohon perlindungan Allah untuk mereka. Saat mereka tidur, panjatkan doa agar mereka diberikan hidayah dan keberkahan. Setiap momen adalah kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa.

Baca juga : Waktu Dzikir Pagi Petang

Oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr diterjemahkan oleh Abu Razin Al Batawiy.

(tulisannya bisa diakses di situs beliau www.al- badr.net)