Dalam pendidikan anak, menanamkan akidah dan iman yang benar adalah fondasi yang paling krusial. Akidah yang kuat dan iman yang benar akan menjadi dasar bagi semua amalan lain yang dilakukan. Jika kedua fondasi anak ini baik, maka seluruh perilaku dan amalannya juga akan baik. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 24-26)

Pentingnya akidah yang benar digambarkan seperti pohon dengan akar yang kuat. Tanpa akar yang kuat, pohon akan mati, begitu pula agama tanpa tauhid tidak akan memiliki manfaat. Tauhid merupakan akar dari agama. Banyak nasihat dari Al-Qur’an dan hadits yang menekankan pentingnya menanamkan akidah yang benar dan keimanan yang kuat sejak dini pada anak-anak.

Salah satu contoh nasihat penting dalam hal ini adalah wasiat Luqman Al Hakim kepada anaknya. Ia mengajarkan anaknya untuk menghindari kesyirikan, mengingatkan bahwa kesyirikan adalah dosa yang sangat besar dan dapat membatalkan semua amalan. Sebagaimana Luqman berkata kepada anaknya:

“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Kesyirikan adalah dosa yang paling berbahaya karena menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal yang menjadi hak-Nya. Orang-orang musyrik akan menyesali perbuatan mereka di hari kiamat karena telah mempersekutukan Allah.

Luqman Al Hakim juga mengingatkan anaknya tentang pentingnya merasa selalu diawasi oleh Allah (muraqabah). Ia berkata:

“Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.” (QS. Luqman: 16)

Ayat ini mengingatkan bahwa Allah selalu mengetahui segala perbuatan manusia, sehingga orang tua harus menanamkan rasa muraqabah pada anak-anak mereka. Dengan menanamkan akidah yang benar, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi mereka, yang akan menguatkan tingkatan ihsan dalam diri mereka.

Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya menanamkan akidah pada anak-anak sejak dini. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai ananda, Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu; Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika suatu umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi)

Oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr diterjemahkan oleh Abu Razin Al Batawiy.

(tulisannya bisa diakses di situs beliau www.al- badr.net)