Laporan Yayasan Persahabatan Studi Peradaban mengenai situasi pasca konflik Palestina, yaitu 471 hari setelah Taufan Al-Aqsa, pada acara Solidaritas Indonesia Bersama Palestina yang diadakan pada 14 Ramadhan 1446 Hijriah.
Jakarta (Serambi Mekkah) – Yayasan Persahabatan Studi Peradaban (YPSP) melaporkan data-data mencengangkan mengenai konflik Palestina dengan Zionis Israel pada Jumat, 14 Maret 2025, melalui acara solidaritas “Indonesia Bersama Palestina”, di Puri Ardhya Garini, Jakarta Timur.
Dari data yang dihimpun oleh YPSP, Gaza telah diguncang konflik selama 471 hari (hingga data terdokumentasi) pasca taufan Al-Aqsa, merenggut 49.316 nyawa termasuk 17.881 anak-anak tanpa dosa.
Di balik angka-angka kering ini, ada kisah pilu 12.298 perempuan yang mungkin meninggal saat melindungi anak-anaknya, 2.421 lansia yang tadinya bermimpi damai di sisa hidupnya, ditambah 94 pahlawan SAR (Search And Rescue) yang justru tewas saat berusaha menyelamatkan orang lain.

Coba bayangkan, terdapat 30 rumah sakit rata dengan tanah, padahal rumah sakit adalah tempat nyawa diselamatkan dan 136 ambulans hancur, sementara para korban hanya bisa mengerang dengan darah mengucur tanpa pertolongan memadai.
Bayangkan juga 800.000 anak Gaza kehilangan akses pendidikan dengan 500 sekolah hancur; sementara 40.000 anak yatim kini bergantung pada kerabat jauh atau tetangga yang juga kesulitan memberi makan keluarga mereka sendiri.

Dan, mau tahu yang paling menohok hati? Sebanyak 7.000 keluarga—bukan hanya individu—dihapus total dari catatan sipil karena seluruh anggotanya tewas tanpa sisa, seolah takdir memutuskan bahwa keluarga ini tak boleh lagi punya penerus di muka bumi.

Para nakes (tenaga kesehatan) Gaza—1.068 di antaranya kini tak bernyawa—terpaksa mengoperasi pasien dengan pisau dapur, menjahit luka dengan benang biasa, atau bahkan membius dengan apa saja yang tersedia, mirip adegan film tapi sayangnya ini adalah realita pahit sehari-hari.
Meski 136 ambulans hancur, kalian harus tahu bahwa relawan Gaza masih ngotot menyelamatkan korban dengan gerobak sayur, skateboard, bahkan punggung mereka sendiri, apa pun yang bisa dilakukan meskipun dihadapkan pada situasi yang terlihat paling mustahil.

Kehancuran 981 masjid di Gaza bukan cuma soal angka melainkan hilangnya jantung kehidupan sosial. Di tempat itulah warga biasa berbagi hidangan saat Ramadhan, mencari perlindungan ketika bom mengguncang, atau tempat beribadah dengan tenang. Masjid-masjid ini adalah rumah kedua bagi banyak keluarga, dan kini tinggal puing-puing.
100.000 ton bahan peledak (setara hingga 7 bom Hiroshima) dijatuhkan di wilayah gaza, meninggalkan 11.200 orang hilang, mungkin terkubur entah di mana, mungkin jadi abu, atau lebih menyakitkan lagi, mungkin masih hidup tapi tak bisa ditemukan keluarganya.
Jujur saja, tulisan ini pun tak sanggup menggambarkan kedalaman duka Gaza, bagaimana rasanya kehilangan seluruh keluarga, bagaimana rasanya operasi tanpa obat bius, atau bagaimana rasanya melihat anak balita menangis lapar di samping tubuh ibunya yang meregang nyawa?
Jauh di lubuk hati, kita semua paham ini adalah tentang nilai kemanusiaan universal yang harusnya menyatukan kita semua, karena siapa yang mungkin akan rela diusir dan dibantai keluarga dari rumahnya yang damai?
*Sebarkan tulisan ini sebagai bentuk kepedulian, karena diam saat ketidakadilan terjadi sama saja seperti menyetujuinya, dan Gaza bukan cuma tragedi orang lain, tapi cermin kemanusiaan kita bersama.*








Tinggalkan Balasan